Kertanagara menjadi raja Singhasari sejak tahun 1268. Berbeda dengan raja-raja
sebelumnya, ia berniat memperluas daerah kekuasaan sampai ke luar Pulau Jawa. Gagasan tersebut dimulai
tahun 1275 dengan pengiriman
pasukan di bawah pimpinan Kebo Anabrang untuk
menaklukan bhumi malayu.
Nagarakretagama mengisahkan bahwa
tujuan Ekspedisi Pamalayu sebenarnya untuk menundukkan Swarnnabhumi secara baik-baik.
Namun, tujuan tersebut mengalami perubahan karena raja Swarnnabhumi ternyata
melakukan perlawanan. Meskipun demikian, pasukan Singhasari tetap berhasil
memperoleh kemenangan.
Menurut analisis para sejarawan, latar belakang
pengiriman Ekspedisi Pamalayu adalah untuk membendung serbuan bangsa Mongol. Saat itu kekuasaan Kubilai Khan raja Mongol
(atau Dinasti Yuan) sedang mengancam
wilayah Asia Tenggara. Untuk itu, Kertanagara
mencoba mendahuluinya dengan menguasai Sumatera sebelum datang
serbuan dari pihak asing tersebut. Namun ada juga pendapat lain mengatakan
bahwa tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk menggalang kekuatan di Nusantara dibawah satu
komando Singhasari yang bertujuan untuk
menahan kemungkinan serangan dari Mongol.
Beberapa literatur menyebut sasaran Ekspedisi Pamalayu
adalah untuk menguasai negeri Melayu sebagai batu
loncatan untuk menaklukkan Sriwijaya. Dengan demikian, posisi
Sriwijaya sebagai penguasa Asia Tenggara dapat diperlemah. Namun pendapat ini
kurang tepat karena pada saat itu kerajaan Sriwijaya sudah musnah. Nagarakretagama yang
ditulis tahun 1365 juga tidak pernah
menyebutkan adanya negeri bernama Sriwijaya lagi, melainkan bernama Palembang. Itu artinya pada zaman
tersebut, nama Sriwijaya sudah tidak dikenal lagi.
Catatan dari Dinasti Ming memang menyebutkan
bahwa pada tahun 1377 tentara Jawa
menghancurkan pemberontakan San-fo-tsi. Meskipun demikian, istilah San-fo-tsi
tidak harus bermakna Sriwijaya. Dalam catatan Dinasti Song istilah San-fo-tsi
memang identik dengan Sriwijaya, namun dalam naskah Chu-fan-chi yang
ditulis tahun 1225, istilah San-fo-tsi
identik dengan Dharmasraya. Dengan kata lain, San-fo-tsi adalah sebutan
bangsa Cina untuk pulau
Sumatera, sebagaimana mereka menyebut Jawa dengan istilah Cho-po.
Jadi, sasaran Ekspedisi Pamalayu adalah inspeksi pada
Kerajaan Melayu karena dalam Nagarakretagama telah disebutkan
bahwa kerajaan wilayah Melayu merupakan daerah bawahan di antara sekian banyak
daerah jajahan Majapahit, dimana penyebutan Malayu tersebut
dirujuk kepada beberapa negeri yang ada di pulau Sumatera dan Semenanjung
Malaya.
Dharmasraya penganti
Sriwijaya
Istilah Pamalayu dapat bermakna “perang
melawan Malayu” atau kalau alih dari bahasa Sanskrit berarti "tidak
melepaskan Malayu". Hal ini terjadi karena kawasan Melayu yang
sebelumnya berada dibawah kekuasaan Sriwijaya sebagaimana tersebut
padaPrasasti
Kedukan Bukit yang beraksara tahun 682 Dan kemudian
munculnya Dharmasraya mengantikan peran
Sriwijaya sebagai penguasa pulau Sumatera dan Semenanjung
Malaya, seiring dengan melemahnya pengaruh Sriwijaya setelah serangan
pasukan Rajendra Chola dariKoromandel, India sekitar tahun 1025, dimana dari Prasasti Tanyore menyebutkan bahwa
serangan tersebut berhasil menaklukan dan menawan raja dari Sriwijaya.
Pengiriman Arca Amoghapasa
Setelah kerajaan Melayu di Dharmasraya dengan rajanya
waktu itu Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa takluk dan menjadi
daerah bawahan, maka pada tahun 1286 Kertanagara
mengirim Arca Amoghapasa untuk ditempatkan di
Dharmasraya. Prasasti Padangroco, tempat dipahatkannya
Arca Amoghapasa menyebutkan bahwa arca tersebut adalah hadiah persahabatan dari
Maharajadhiraja Kertanagara untuk Maharaja Tribhuwanaraja. Sehingga jika
ditinjau dari gelar yang dipakai, terlihat kalau Singhasari telah menjadi
atasan Dharmasraya.
Prasasti Padangroco juga menyebutkan bahwa arca
Amoghapasa diberangkatkan dari Jawa menuju Sumatera dengan diiringgi beberapa
pejabat penting Singhasari di antaranya ialah Rakryan Mahamantri Dyah Adwayabrahma, Rakryan Sirikan Dyah
Sugatabrahma, Payaman Hyang Dipangkaradasa, dan Rakryan Demung Mpu Wira.
Setelah penyerahkan arca tersebut, Raja Melayu kemudian
menghadiahkan dua putrinya, Dara Jingga dan Dara Petak, untuk dinikahkan dengan
Kertanagara di Singhasari.
Pararaton menyebutkan bahwa
pasukan Pamalayu yang berangkat tahun 1275 akhirnya pulang
ke Jawa sepuluh hari setelah
kepergian bangsa Mongol tahun 1294.
Menurut catatan Dinasti Yuan, Kaisar Khubilai Khan
mengirim pasukan Mongol untuk menyerang kerajaan Singhasari tahun 1292. Namun, Singhasari
ternyata sudah runtuh akibat pemberontakan Jayakatwang. Pasukan Mongol kemudian
bekerja sama dengan Raden Wijaya penguasa Majapahit untuk menghancurkan
Jayakatwang.
Sesudah itu, Raden Wijaya ganti mengusir pasukan Mongol
dari Pulau Jawa. Kepergian pasukan yang dipimpin Ike Mese itu terjadi pada
tanggal 23 April 1293. Jadi, pemberitaanPararaton meleset
satu tahun. Dengan demikian, kepulangan pasukan Pamalayu tiba di Jawa sekitar
tanggal 3 Mei 1293.
Dan selanjutnya kedua orang putri Melayu tersebut, Raden
Wijaya sebagai ahli waris Kertanagara mengambil Dara Petak sebagai istri, dan
menyerahkan Dara Jingga kepada seorang dewa. Dimana dari Dara Petak
lahirlah nantinya Jayanagara raja Majapahit penganti Raden
Wijaya.
Sedangkan Dara Jingga kemudian melahirkan seorang anak
laki-laki bernama Tuhanku Janaka atau Mantrolot Warmadewa yang identik
dengan Adityawarman, yang kemudian hari
menjadi raja di Malayapura. Adityawarman sendiri
mengaku sebagai putra Adwayawarman. Nama ini mirip dengan salah satu nama
pengawal yang mengantar arca Amoghapasa sebelumnya, yaitu Adwayabrahma yang
menjabat sebagai Rakryan Mahamantri. Jabatan ini merupakan jabatan tingkat
tinggi dalam pemerintahan Singhasari. Mungkin istilah dewa dalam Pararaton merujuk
kepada jabatan ini.
Namun ada pendapat lain terutama dari Prof. Uli Kozok yang
mengatakan bahwa anak dari Dara Jingga tersebut adalah yang bernama Akarendrawarman.
Menurut sumber dari Batak, pasukan Pamalayu
dipimpin oleh Indrawarman, bukan Kebo Anabrang. Tokoh Indrawarman ini tidak
pernah kembali ke Jawa, melainkan menetap diSumatra dan menolak
kekuasaan Majapahit sebagai kelanjutan dari Singhasari. Mungkin, Indrawarman
bukan komandan Pamalayu, melainkan wakilnya. Jadi, ketika Kebo Anabrang kembali
ke Jawa, ia tidak membawa semua pasukan, tetapi meninggalkan sebagian di bawah
pimpinan Indrawarman untuk menjaga keamanan Sumatra. Nama Indrawarman inilah
yang tercatat dalam ingatan masyarakat Batak.
Dikisahkan bahwa Indrawarman bermarkas di tepi Sungai
Asahan. Ia menolak mengakui kedaulatan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya sebagai ahli waris
Kertanagara. Namun, ia juga tidak mampu mempertahankan daerah Kuntu–Kampar yang
direbut oleh Kesultanan Aru–Barumun pada tahun 1299. Indrawarman takut
apabila kerajaan Majapahitdatang untuk meminta
pertanggungjawabannya. Ia pun meninggalkan daerah Asahan untuk membangun
kerajaan bernama Silo di daerah Simalungun. Pada tahun 1339 datang pasukan
Majapahit di bawah pimpinan Adityawarman menghancurkan
kerajaan ini.
Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin
memperistri putri Dyah
Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk
terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara
diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.
Menurut catatan sejarah Pajajaran oleh Saleh Danasasmita
serta Naskah Perang Bubat oleh Yoseph Iskandar, niat pernikahan itu adalah
untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri
kerajaan Majapahit dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya
yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal
ini juga tercatat dalam Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga
3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut
pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran. Meskipun
demikian, catatan sejarah Pajajaran tersebut dianggap lemah kebenarannya,
terutama karena nama Dyah Lembu Taladalah nama laki-laki.
Alasan umum yang dapat diterima adalah Hayam Wuruk memang
berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk
mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga
kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja
Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan
dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri
sebenarnya keberatan, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena
menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat
itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin
lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik
Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara
menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.
Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke
Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua
negara tersebut. Linggabuana berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan
diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.
Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri
Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit. Menurut Kidung
Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Madauntuk menguasai Kerajaan
Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada
masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara
yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.
Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan oleh
untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah
bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada
mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin,
tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit
atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas
permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan
Majapahit pada saat itu.
Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan
Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya
Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya
untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena
undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.
Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada
sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam
Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan
kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah
peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang
berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan
(Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang
ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana,
para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda. Raja
Sunda beserta segenap pejabat kerajaan Sunda dapat didatangkan di Majapahit dan
binasa di lapangan Bubat.
Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati
berduka melakukan bela pati, bunuh diri untuk membela kehormatan
bangsa dan negaranya. Tindakan ini mungkin diikuti oleh segenap
perempuan-perempuan Sunda yang masih tersisa, baik bangsawan ataupun abdi.
Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatriya, tindakan bunuh diri
ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya
telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk
melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena
pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.
Tradisi menyebutkan bahwa Hayam Wuruk meratapi kematian
Dyah Pitaloka. Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa)
dari Bali - yang saat itu
berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah
Pitaloka - untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat
sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan
dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung
Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar
diambil hikmahnya. Raja Hayam Wuruk kemudian menikahi sepupunya sendiri, Paduka
Sori.
Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan
tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah
Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat
dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Ia
dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan
perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri. Peristiwa yang penuh kemalangan
ini pun menandai mulai turunnya karier Gajah Mada, karena kemudian Hayam Wuruk
menganugerahinya tanah perdikan di Madakaripura (kini Probolinggo). Meskipun tindakan ini
nampak sebagai penganugerahan, tindakan ini dapat ditafsirkan sebagai anjuran
halus agar Gajah Mada mulai mempertimbangkan untuk pensiun, karena tanah ini
letaknya jauh dari ibu kota Majapahit sehingga Gajah Mada mulai mengundurkan
diri dari politik kenegaraan istana Majapahit. Meskipun demikian, menurut
Negarakertagama Gajah Mada masih disebutkan nama dan jabatannya, sehingga
ditafsirkan Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai akhir hayatnya (1364).
Tragedi ini merusak hubungan kenegaraan antar kedua
negara dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian, hubungan
Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala. Pangeran
Niskalawastu Kancana — adik Putri Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali
dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih
terlalu kecil — menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan
kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana. Kebijakannya
antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan
isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat
peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan
peraturan larangan estri ti luaran, yang isinya diantaranya tidak
boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan
tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan
lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.
Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri
Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati)
dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja
Lingga Buana dijuluki "Prabu Wangi" (bahasa Sunda: raja yang harum
namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya,
raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari
kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus
Prabu Wangi.
Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan
kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian
berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan
Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. Antara lain, tidak
seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat
budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama "Gajah Mada" atau
"Majapahit". Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia,
kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang
dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.
Hal yang menarik antara lain, meskipun Bali sering kali dianggap
sebagai pewaris kebudayaan Majapahit, masyarakat Bali sepertinya cenderung
berpihak kepada kerajaan Sunda dalam hal ini, seperti terbukti dalam naskah
Bali Kidung Sunda. Penghormatan dan
kekaguman pihak Bali atas tindakan keluarga kerajaan Sunda yang dengan gagah
berani menghadapi kematian, sangat mungkin karena kesesuaiannya dengan
ajaran Hindu mengenai tata
perilaku dan nilai-nilai kehormatan kasta ksatriya, bahwa kematian yang
utama dan sempurna bagi seorang ksatriya adalah di ujung pedang di tengah medan
laga. Nilai-nilai kepahlawanan dan keberanian ini mendapatkan sandingannya
dalam kebudayaan Bali, yakni tradisi puputan, pertempuran hingga mati
yang dilakukan kaum prianya, disusul ritual bunuh diri yang dilakukan kaum
wanitanya. Mereka memilih mati mulia daripada menyerah, tetap hidup, tetapi
menanggung malu, kehinaan dan kekalahan.